News Update :

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Label

Label

TRANSFORMATOR


I.     Pengertian Transformator

Transformator adalah sebuah peranti yang terdiri dari dua lilitan atau lebih yang tergandeng secara induktif. Tranformator banyak digunakan dalam elektronika. Paling banyak Transformator terdiri atas dua satu lebih kumparan yang dililitkan pada inti besi bersama. Secara umum, kumparan-kumparan trafo tidak terhubung secara langsung secara elektrik. Satu-satunya hubungan antara kumparan berupa gandengan fluk magnetic yang berada pada inti besi.
Transformator digunakan secara luas baik pada bidang tenaga listrik maupun elektronika. Penggunaan transformator pada system tenaga, misalnya untuk mengubah level tegangan pada penyaluran tenaga listrik. Dalam bidang elektronika, transformator digunakan antara lain sebagai gandengan impedansi antara sumber dengan beban, untuk memisahkan satu rangkaian dari rangkaian lain, dan filter arus searah. digunakan untuk mengubah besar kecil tegangan.

II.   Konstruksi Transformator
Trafo tersusun dari dua atau lebih kumparan yang dililitkan pada inti besi. Kumparan Primer adalah kumparan yang terhubung ke sumber. Kumparan Sekunder (tersier, dan seterusnya) adalah kumparan yang terhubung ke beban. Berdasar cara lilitan pada kumparan inti dikenal dua tipe transformator: tipe inti (core type) dan tipe cangkang (shell type). Pada tipe inti, inti berupa batangan segi empat dengan kumparan dililitkan pada dua sisi inti. Sementara inti trafo tipe cangkang terdiri dari tiga lengan dengan kumparan dililitkan pada lengan tengah inti. Inti trafo disusun atas lapisan-lapisan tipis yang diisolasi secara elektrik antara satu lapisan dengan yang lain untuk meminimalkan arus eddy.

III.  Prinsip Operasi Transformator

Transformator bekerja berdasarkan prinsip energi dapat dipindahkan melalui induksi magnetik dari satu lilitan ke lilitan lain oleh fluks magnetik yang berubah-ubah. Fluks magnet ini dapat dihasilkan oleh sumber tegangan AC. Kumparan trafo yang terhubung dengan sumber AC disebut kumparan primer, dan kumparan yang menyalurkan tegangan induksi ke beban disebut kumparan sekunder.

IV. Prinsip Kerja Transformator
Ketika tegangan bolak-balik diterapkan pada kumparan primer, arus bolak-balik akan mengalir pada kumparan. Arus ini memagnetisasi inti, sehingga pada inti timbul fluks magnet yang nilainya sebanding dengan nilai arus. Karena nilai arus setiap saat berubah-ubah maka besar fluks magnet juga berubah. Fluks bolak-balik akan mengalir pada rangkaian magnetik (inti besi) menginduksikan tegangan pada kumparan primer dan sekunder. Karena kedua kumparan digandeng oleh fluks yang sama, maka tegangan induksi per lilitan adalah sama besarnya. Tegangan induksi ini arahnya berlawanan dengan tegangan yang diterapkan pada kumparan primer.
Sebuah trafo mempunyai rasio tegangan 1:5 berarti setiap 1 volt tegangan pada sisi primer, maka akan menjadi 5 volt pada sisi sekunder dan sebaliknya. Trafo dengan tegangan sekunder lebih besar dari tegangan primer dinamakan trafo “step up” Sementara trafo dengan tegangan sekunder lebih rendah dari tegangan primer dinamakan tarfo “step down”.

V.   Menguji Transformator dengan Multimeter
Gulungan Primer
·         Selector Avo diletakkan pada posisi 10 ohm meter
·         Alat ukur menunjukan harga ohm yang agak besar dibandingkan pada gulungan sekunder
·         Hasil pengukuran tidak boleh nol ( shot) dan tidak boleh tak terhubung.
·         Dalam pengukuran ini trafo tidak boleh diberi tegangan. 


 
Gulungan Sekunder
·         Selector diletakan pada posisi R x 1ohm meter
·         Alat ukur menunjukan harga ohm meter yang relatif kecil dibandingkan pada gulungan primer










Gulungan Primer/ Sekunder dengan Inti Besi
·         Alat ukur harus menunjukan harga tak hingga ohm


 

Antara Primer dengan Sekunder
·         Alat ukur harus menunjukan harga tak hingga ohm 



baca juga artikel yang terkait lainnya

VIII. Menguji Kapasitor dengan Multimeter


Menguji Kapasitor Untuk mengetahui kapasitor bocor atau tidak, kita dapat menggunakan Ohm meter. Jika Kapasitor dalam keadaan baik, maka jarum ohm meter akan menunjukan simpangan. Besar kecilnya simpangan jarum tergantung pada nilai kapasitansi dari kapasitor yang diukur.

VII. Insulation Resistance (IR)


Walaupun bahan dielektrik merupakan bahan yang non-konduktor, namun tetap saja ada arus yang dapat melewatinya. Artinya, bahan dielektrik juga memiliki resistansi. walaupun nilainya sangat besar sekali. Phenomena ini dinamakan arus bocor DCL (DC Leakage Current) dan resistansi dielektrik ini dinamakan Insulation Resistance (IR). Untuk menjelaskan ini, berikut adalah  model rangkaian kapasitor.
 
model kapasitor
C = Capacitance
ESR = Equivalent Series Resistance
L = Inductance
IR = Insulation Resistance

Jika tidak diberi beban, semestinya kapasitor dapat menyimpan muatan selama-lamanya. Namun dari model di atas, diketahui ada resitansi dielektrik IR(Insulation Resistance) yang paralel terhadap kapasitor. Insulation resistance (IR) ini sangat besar (MOhm). Konsekuensinya tentu saja arus bocor (DCL) sangat kecil (uA).  Untuk mendapatkan kapasitansi yang besar diperlukan permukaan elektroda yang luas, tetapi ini akan menyebabkan resistansi dielektrik makin kecil. Karena besar IR selalu berbanding terbalik dengan kapasitansi (C), karakteristik resistansi dielektrik ini biasa juga disajikan dengan besaran RC (IR x C) yang satuannya ohm-farads atau megaohm-micro farads


baca juga artikel yang terkait lainnya

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Arsip Blog

Kontributor

 
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Copyright © 2011. elektra solution . All Rights Reserved.
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger